MAKALAH SEJARAH DAKWAH
“SOSIAL BUDAYA DAN AGAMA ARAB PRA
ISLAM”
DISUSUN
OLEH :
Saprina :
1911330066
DOSEN PEMBIMBING:
Hendri Firmansyah, M.Pd
PROGRAM STUDI
MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS
USHULLUDIN,ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN)
BENGKULU
2019
DAFTAR ISI
BAB I pendahuluan
A. Latar belakang…………………………………………………………………..1
B. Rumusan masalah………………………………. ………………………………1
BAB ll pembahasan………………………………………………………………
A. Kondisi sosial bangsa arab………………………………………………………….2
B.
Kondisi budaya bangsa arab………………………………………………………..3
C.
Kondisi geografi bangsa arab………………………………………………………4
D.
Karakter bangsa arab………………………………………………………………5
E. Kondisi kepercayaan bangsa arab………………………………………………….
6
BAB IIl penutup
A.
Kesimpulan………………………………………………………………………….7
B. Daftar pustaka………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Arab sebelum (munculnya) Islam, dikenal
sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Letak geografis yang cukup
strategis; bahkan bangsa Arab telah dapat mendirikan kerajaan di antaranya
Saba’, Ma’in dan Qutban serta Himyar yang semuanya berasa di wilayah Yaman.
Di sisi lain, terdapat kenyataan bahwa
al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dalam konteks geografis Arab,
mengimplikasikan sebuah asumsi bahwa suatu pemahaman yang komprehensif terhadap
al-Qur’an hanya mungkin dilakukan dengan sekaligus melacak pemaknaan dan
pemahaman pribadi, masyarakat dan lingkungan mereka yang menjadi audiens
pertama al-Qur’an, yaitu Muhammad dan masyarakat Arab saat itu dengan segala
kultur dan tradisinya. Dan untuk memiliki pengertian yang sebenar-benarnya
tentang asal mula Islam, maka satu hal yang perlu diketahui adalah bagaimana
keadaan Arab sebelum adanya Islam, Muhammad, dan sejarah Islam terdahulu.Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai kondisi Arab Pra-Islam.
Terkait keadaan sosial-budaya, geografis, karakter masyarakat, dan kepercayaan
yang mereka anut.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat
ditarik rumusan masalah, sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi sosial bangsa Arab pra
Islam?
2. Bagaimana kondisi
budaya bangsa Arab pra Islam?
3. Bagaimana kondisi geografi bangsa Arab pra
Islam
4. Bagaimana karakter bangsa Arab pra Islam?
5. Bagaimana kondisi kepercayaan dan agama yang
dianut oleh bangsa Arab pra Islam?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kondisi Sosial Bangsa Arab
Sebelum Islam datang wilayah sekitar
semenanjung Arabiyah dilatarbelakangi oleh dua imperium, Romawi
Timur di sebelah barat dengan ibukota di Bizantini yang kemudian nama ini
diubah menjadi konstantinopel di sebelah Barat dan imperium Persia di sebelah
Timur. Wilayah utama Romawi Timur sangat luas meliputi Syria, Palestina, Mesir,
Turki, Asia Kecil, dan sebagian kecil Eropa[1].
Kondisi sosial politik internal masyarakat
Arab menjelang kedatangan Islam dapat dikatakan terpecah-pecah, tidak mengenal
kepemimpinan sentral. Dalam struktur masyarakat Arab terdapat kabilah sebagai
intinya. Ia adalah organisasi keluarga besar yang biasanya hubungan antara
angota-anggotanya terikat oleh pertalian darah atau nasab. Akan
tetapi, ada kalanya hubungan seseorang dengan kabilahnya disebabkan oleh ikatan
perkawinan, suaka politik atau karena sumpah setia. Kabilah dalam masyarakat
Badui, di samping karena ikatan keluarga juga karena ikatan politik. Sebuah
kabilah dipimpin oleh seorang kepala yang disebut syaikh al kabilah yang
biasanya dipilih dari salah seorang anggota yamg usianya paling tua.
Solidaritas kesukuan atau ‘ashabiyah qobliyahdalam kehidupan
masyarakat Arab sebelum Islam terkenal amat kuat. Hal ini diwujudkan dalam
bentuk proteksi kabilah atau seluruh anggota kabilahnya. Kesalahan seorang
anggota kabilah terhadap kabilah lain mennjadi tanggungjawab kabilahnya,
sehingga ancaman terhadap salah seorang anggota kabilah berarti ancaman
terhadap kabilah yang bersangkutan. Oleh karena itu, perselisihan perorangan
hampir selalu menimbulkan konflik antar kabilah yang acap kali melahirkan
peperangan yang berlangsung lama. Dalam masyarakat yang berperang, maka nilai
wanita menjadi sangat rendah. Selain itu, kebudayaan mereka tidak berkembang
akibat perang yang terus menerus.
B.
Kondisi Budaya Bangsa Arab
Kata peradaban secara etimologi adalah
terjemahan dari kata Arab al- hadharah. Istilah arab ini juga
sering diterjemahakan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan”. Kata
“kebudayaan” berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah” ialah bentuk
jamak dari “budhi” yang berarti akal. Dengan demikian kebudayaan dapat
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Dalam bahasa
Arab, kata kebudayaan disebut “al-tsaqofah” masdar dari tsaqifa-yatsqafu yang
artinya pendidikan atau pengajaran. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata
kebudayaan disebut “culture” dan dalam bahasa Belanda “cultur”,
kemudian dalam bahasa latin disebut “colere”, dan “wen-hus” untuk
bahasa Tionghoa. Kebudayaan menurut
para Ahli:
a.
Sidi Gazalba
Kebudayaan adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan
diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan
sosial (masyarakat) dalam suatu ruang dan waktu.
a.
E. B. Taylor
Kebudayaan adalah suatu kesatuan jalinan yang meliputi
pengetahuan, kesenian, sosial, hukum, adat, dan tiap kesanggupan yang diperoleh
seseorang sebagai anggota masyarakat.
b.
Butts
Kebudayaan adalah seluruh patokan yang membimbing tingkah laku
manusia, baik individu maupun masyarakat, yang meliputi bidang politik,
ekonomi, sosial, lembaga-lembaga keagamaan, demikian pula kepercayaan, gagasan,
dan cita- cita hidup.
c.
Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang
harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan
karyanya.
Peradaban Arab adalah akibat pengaruh dari
budaya bangsa-bangsa disekitarnya yang lebih dahulu maju daripada kebudayaan
dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke Jazirah Arab melalui beberapa
jalur, yang terpenting diantaranya adalah:
Melalui hubungan dagang dengan bangsa lain
1. (Qibthi), dan Romawi yang semuanya telah mendapat
pengaruh dari kebudayaan Hellenisme.
2. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat,
Hirah, dan Ghassan
Melalui kerajaan protektorat, banyak berdiri
koloni-koloni tawanan perang Romawi dan Persia di Ghassan dan Hirah. Penganut
agama Yahudi juga banyak mendirikan koloni di Jazirah Arab, yang terpenting
diantaranya adalah Yatsrib. Penduduk koloni ini terdiri atas orang-orang Yahudi
dan orang- orang Arab yang menganut agama Yahudi.
3. Masuknya misi Yahudi
dan Kristen
Mayoritas penganut agama Yahudi pandai bercocok tanam dan
membuat alat-alat dari besi, seperti perhiasan dan persenjataan. Sama dengan
penganut agama Yahudi, orang-orang Kristen juga mendapat pengaruh dari
kebudayaan Hellenisme dan pemikiran Yunani. Aliran kristen yang masuk ke
Jazirah Arab ialah aliranNestorian di Hirah dan Aliran Jacob-
Barady di Ghassan. Daerah Kristen yang terpenting adalah Najran,
sebuah daerah yang subur.
Meskipun agama Yahudi dan Kristen sudah masuk
ke Jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu
percaya pada banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung.
Berhala-berhala itu dijadikan tempat menanyakan dan mengetahui nasib baik dan
buruk. Demikianlah keadaan bangsa Arab menjelang kebangkitan Islam. Orang-orang
Arab adalah orang yang bangga, tetapi sensitif. Kebanggaan itu disebabkan bahwa
bangsa Arab memiliki sastra yang terkenal, kejayaan sejarah Arab, dan mahkota
bumi pada masa klasik dan bahasa Arab sebagai bahasa ibu yang terbaik di antara
bahasa-bahasa lain di dunia.
Kata Makkah sebagai tempat kelahiran Nabi
Muhammad SAW dan sekaligus sebagai tempat pertama Rasulullah menyampaikan
ajaran islam, dimana Ka’bah sebagai lambang dan pusat kehidupan sosial budaya
bangsa Arab, juga merupakan pusat perdagangan atau perekonomian dan sosial
budaya umumnya pada masa itu. Di samping itu bangsa Arab juga memiliki keahlian
dalam bidang sastra dengan cara penyiar yang terkenal. Mereka sangat menghargai
syair-syair yang indah dan para penyiar dihormati demi menjadi kebanggaan
masyarakat.
Situasi budaya yang demikian tentunya sangat
mendukung bagi tumbuh berkembangnya peradaban islam yang bersumber pada
al-Qur’an, kitab suci yang memiliki nilai sastra sangat tinggi. Selanjutnya,
kebiasaan dan kekuatan daya hafal mereka luar biasa atas syair-syair Arab.
Kehidupan masyarakat Arab berpindah-pindah
dari satu ke lain tempat yang dianggap dapat memberikan kemudahan untuk hidup.
Kondisi alam semacam ini membuat mereka bersikap sebagai pemberani dan bersikap
keras dalam mempertahankan prinsip dan kepercayaan. Kondisi ini pula yang
membuat mereka harus menguasai seperangkat ilmu dan ketrampilan untuk hidup
sesuai dengan lingkungannya. Misalnya, mereka menguasai ilmu meramal jejak dan
peristiwa alam yang akan terjadi, seperti kapan turun hujan, di mana terdapat
mata air, dan di mana terdapat sarang binatang buruan serta binatang buas. Di
siang hari mereka mampu membaca jejak melalui padang pasir, sedangkan di malam
hari mereka menggunakan bintang-bintang. Karena itu, ilmu-ilmu perhitungan
(semacam ramal) dan perbintangan, dalam batas-batas tertentu, berkembang di
kalangan bangsa Arab sebelum Islam.
C.
Kondisi Geografi Bangsa Arab
Jazirah dalam bahasa Arab berarti pulau. Jadi
“Jazirah Arab” berarti “pulau Arab”. Sebagian ahli sejarah menamai tanah Arab
itu dengan “Shibhul Jazirah” yang dalam bahasa Indonesia
berarti “Semenanjung”. Dilihat dari peta, Jazirah Arab berbentuk persegi
panjang yang sisi-sisinya tidak sejajar. Batasan-batasan alam yang membatasi
Jazirah Arab adalah :
Di bagian barat:berbatasan dengan
Laut Merah.
Di bagian timur:berbatasan dengan
Teluk Arab.
Di bagian utara:berbatasan dengan
Gurun Irak dan Gurun Syam.
Di bagian selatan:berbatasan
dengan Samudra Hindia.
Jazirah Arab terbagi atas dua bahagian yaitu
bagian tengah dan bagian tepi. Setiap bagian memiliki bentangan alam
tersendiri. Bagian tengah terdiri dari daerah pegunungan yang amat jarang
dituruni hujan. Di bagian tengah inilah orang Badui tinggal. Bagian tengah dari
Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian yang lebih kecil yaitu: Bagian utara
yang disebut Najed dan bagian selatan yang disebut Al-Ahqaf. Bagian selatan
penduduknya amat sedikit. Karenanya bagian ini disebut Ar-Rab'ul Khali (tempat
yang sunyi). Jazirah Arab bagian tepi merupakan sebuah pita kecil yang
melingkari Jazirah Arab. Pada bagian tepi ini, hujan yang turun cukup teratur.
Bagian tepi inilah yang didiami oleh orang atau penduduk kota. Sedangkan
ahli–ahli ilmu purba membagia Jazirah Arab menjadi tiga bagian :
Arab Petrix, yaitu daerah-daerah
yang terletek di sebelah barat daya lembah Syam.
Arab Deserta, yaitu daerah Syam
sendiri.
Arab Felix, yaitu negeri Yaman
yang terkenal dengan sebutan “Bumi Hijau”.
Pada dsarnya bangsa Arab adalah penduduk asli
jazirah Arab. Semenanjung yang terletak di bagian barat daya Asia dan merupakan
semenanjung terbesar dalam peta dunia dengan luas wilayah sekitar 1.745. 900 km2 ini,
sebagian besar permukaannya terdiri dari padang pasir. Para ahli geologi
mengatakan bahwa wilayah itu pada mulanya merupakan bagian yang tidak
terpisahlan dari dataran sahara (kini dipisahkan oleh Lembah Nil dan Laut
Merah) dan kawasan berpasir yang menyambungkan Asia melalui persia bagian
tengah ke gurun gobi[2]. Secara umum iklim di
jazirah Arab amat panas. Bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering di
muka bumi. Tidak terdapat satu sungaipun di jazirah ini, kecuali di bagian
selatan, yang selalu berair dan mengalir sampai ke laut, selain wadi-wadi
(lembah-lembah) yang hanya berair selama turun hujan. Padahal hujan hampir
tidak pernah turun di kawasan padang pasir yang luas ini.
D.
Karakter Bangsa Arab
Kondisi alam memiliki pengaruh besar baik dari
bentuk fisik dan psikis. Orang-orang arab bertubuh kekar, kuat dan mempunyai
daya tahan tubuh yang tangguh, karena orang-orang yang lemah telah diseleksi
oleh alam itu sendiri untuk dikeluarkan dari kehidupan di dunia. Sedangkan
pengaruh pada psikis ialah telah melahirkan watak-watak keras baik yang positif
maupun negatif. Nourouzzaman Shiddiqie menjelaskan sebagai berikut:
1.
Watak-watak negatif meliputi:
a Sulit bersatu.
b. Gemar berperang.
c.. Kejam
d. Pembalas dendam (vendetta).
e. Angkuh dan sombong.
d. Pemabuk dan penjudi.
2. Watak-watak positif meliputi:
a. Kedermawanan.
b. Keberanian dan kepahlawanan.
c. Kesabaran.
d. Kesetiaan dan kejujuran.
Selain itu, masyarakat yang berada dalam
pemilahan antara jazirah tengah dan pinggiran mempunyai beberapa ciri yang
istimewa. Untuk yang pertama akan dibahas tetang ciri dan keistimewaan dari
masyarakat gurun dari jazirah Arab.
1. Nasab murni.
2. Mempunyai bahasa yang masih murni.
3. Bersifat kesukuan.
Beberapa sifat buruk yang tertera di atas,
membuat masyarakat Arab pra Islam memiliki kebiasaan yang tidak baik. Para
wanita dan laki-laki begitu bebas bergaul, malah untuk berhubungan yang lebih
dalam pun tidak ada batasan. Yang lebih parah lagi, wanita bisa bercampur
dengan lima orang atau lebih laki-laki sekaligus. Hal itu dinamakan
hubungan poliandri. Perzinahan mewarnai setiap lapisan masyarakat.
Semasa itu, perzinahan tidak dianggap aib yang mengotori
keturunan.
Banyak hubungan antara wanita dan laki-laki
yang diluar kewajaran, seperti :
1. Pernikahan secara spontan, seorang laki-laki mengajukan
lamaran kepada laki-laki lain yang menjadi wali wanita, lalu dia bisa
menikahinya setelah menyerahkan mas kawin seketika itu pula.
2. Para laki-laki bisa mendatangi wanita sekehendak hatinya,
yang disebut wanita pelacur.
3. Pernikahan Istibdha’, seorang laki-laki menyuruh
istrinya bercampur kepada laki-laki lain hingga mendapat kejelasan bahwa
istrinya hamil. Lalu sang suami mengambil istrinya kembali bila menghendaki,
karena sang suami menghendaki kelahiran seorang anak yang pintar dan baik.
4. Laki-laki dan wanita bisa saling berhimpun dalam berbagai
medan peperangan. Untuk pihak yang menang, bisa menawan wanita dari pihak yang
kalah dan menghalalkannya menurut kemauannya.
Banyak lagi hal-hal yang menyangkut hubungan
wanita dengan laki-laki yang diluar kewajaran. Diantara kebiasaan yang sudah
dikenal akrab pada masa jahiliyah ialah poligami tanpa da
batasan maksimal, berapapun banyaknya istri yang dikehendaki. Bahkan mereka
bisa menikahi janda bapaknya, entah karena dicerai atau karena ditinggal mati.
Hak perceraian ada ditangan kaum laki-laki tanpa ada batasannya.
Perzinahan mewarnai setiap lapisan mayarakat,
tidak hanya terjadi di lapisan tertentu atau golongan tertentu. Kecuali hanya
sebagian kecil dari kaum laki-laki dan wanita yang memang masih memiliki
keagungan jiwa.
Ada pula kebiasaan diantara mereka yang
mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut aib dan karena
kemunafikan. Atau ada juga yang membunuh anak laki-lakinya, karena takut miskin
dan lapar. Disini kami tidak bisa menggambarkannya secara detail kecuali dengan
ungkapan-ungkapan yang keji, buruk, dan menjijikkan.
Secara garis besar, kondisi masyarakat mereka
bisa dikatakan lemah dan buta. Kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan, khurafat tidak
bisa dilepaskan, manusia hidup layaknya binatang. Wanita diperjual-belikan dan
kadang-kadang diperlakukan layaknya benda mati. Hubungan ditengah umat sangat
rapuh dan gudang-gudang pemegang kekuasaan dipenuhi kekayaan yang berasal dari
rakyat, atau sesekali rakyat dibutuhkan untuk menghadang serangan musuh.
E.
Kondisi Kepercayaan Bangsa Arab
Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah
menganut agama yang mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan mereka. kepercayaan
kepada Allah tersebut tetap diyakini oleh bangsa Arab sampai kerasulan Nabi
Muhammad SAW., hanya saja keyakinan itu dicampur-baurkan dengan takhayul dan
kemusyrikan, mensekutukan Allah dengan sesuatu dalam menyembah kepada-Nya,
seperti jin, roh, hantu, bulan, matahari, tumbuh-tumbuhan, berhala dan
sebagainya. Kepercayaan yang menyimpang dari agama yang benar itu disebut
agama watsaniyah. Watsaniyah adalah agama yang
mempersekutukan Allah dengan mengadakan penyembahan kepada aushab (batu
yang dibentuk menjadi patung) dan ashaam(patung yang terbuat dari
kayu, emas, perak, logam dan semua patung yang tidak terbuat dari batu).
Mereka percaya ada hantu yang berkeliaran di
padang pasir untuk mengganggu perjalanan musafir. Hantu itu disebut ghauluntuk
jenis pria dan aimir untuk jenis perempuan. Mereka juga
mempercayai kekuatan jimat-jimat yang berfungsi sebagia penangkal kejahatan
seperti sihir dan gangguan jin atau setan. Azimat juga dipercayai dapat
menyembuhkan penyakit-penyakit psikis atau mendatangkan penyakit psikis. Selain
itu, mereka percaya terhadap roh, seperti roh hammah yang
berada di dalam ular, karena itu membunuh ular dilarang keras (Tim Penyusun
Depag RI, 1982:8-10).
Mayoritas bangsa Arab Jahiliyah menyembah
berhala kecuali para penganut Yahudi dan Nasrani yang jumlahnya kecil. Selain
itu, mereka menyembah matari, bintang dan angin. Bahkan terkadang ada yang
menyembah batu-batu kecil dan pohon-pohon yang dianggap keramat. Mereka
mempunyai berhala-berhala sesembahan, dan yang paling besar lagi terkenal
adalah latta, mana, ‘uzza, dan hubal. Di sekeliling Ka’bah terdapat
sekitar 360 berhala yang setiap tahun mereka kunjungi untuk disembah bersamaan
dengan diselenggarakannya perayaan raya Ukadz. Dengan demikian,
pada umumnya mereka tidak mempunyai kepercayaan kepada Tuhan yang Esa (monotheisme),
dan tidak mempercaya hari pembalasan (akhirat) sebagaimana digambarkan dalam
al-Quran sebagi orang-orang kafir dan musyrik.
Namun demikian, di sisi lain terdapat sejumlah
orang yang kemudian dalam Islam disebut ahlul kitab (mereka yang
memahami dan konsisten pada kitab suci taurat dan injil) dari kalangan Yahudi
dan Nasrani yang masih mempertahankan ajaran-ajaran agamanya seperti ajaran
tentang ke-Esaan Tuhan (monotheisme).
BAB III
PENUTUP
Keismpulan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Kehidupan sosial
bangsa Arab pra Islam mereka terdiri dari suku-suku yang dipimpin oleh
kabilah-kabilah.
2. Orang-orang Arab pra
Islam, banyak yang menyembah berhala, suka perang, tabiat dan perilakunya
kurang baik bahkan membunuh bayi perempuan.
3. Orang Aran pra Islam
tidak menetap di satu tempat saja, akan tetapi berpindah-pindah mencari tempat
yang nyaman dan banyak sumber makanan. Sedangkan orang pesisir menetap.
4. Wilayah Jazirah Arab
hampir seluruh bagiannya adalah padang pasir, bahkan merupakan tempat yang
paling panas di dunia.
5. Orang-orang Arab pra
Islam, memiliki kepercayaan terhadap para roh, mistis, dan menyembah berhala.
6. Pada masa Arab pra
Islam sudah terdapat agama Kristen, Yahudi, dan Nasrani.
Daftar Pustaka
Djuhan, Muh. Widda. Sejarah Peradaban Islam. Ponorogo:
STAIN Ponorogo Press. 2011.
Fadil SJ. Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan
Sejarah. Malang: UIN Malang Press. 2008.
Nurhakim,Moh. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang:
UM Inpress. 2004.
Rofiq,Choirul. Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik
Hingga Modern. Ponorogo: STAIN Ponnorogo Press. 2009.
Supriyadi,Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung:
Pustaka Setia. 2008.
Comments
Post a Comment